Fase Luteal
Gambar 9 mengilustrasikan fase luteal dari siklus, di mana sejak hari ke-4 sesudah
Puncak (hari terakhir rasa licin pada vulva) leher rahim tertutup dengan gumpalan
lendir kental yang mencegah sel-sel sperma untuk memsuki rongga rahim.
Corpus luteum dalam indung telur sedang memproduksi estrogen dan progesteron.
Bila tidak ada segala bentuk kontak alat kelamin sejak awal titik perubahan hingga
awal harl ke-4 sesudah Puncak, maka sel telur tidak mungkin dibuahi dan akan
hancur dalam saluran telur.
| Stiker |

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|
| Simbol |

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|
| Rasa
Sifat
Lendir |
basah |
basah |
basah |
lengket |
kering |
kering |
kering |
kering |
kering |
kering |
lengket keruh |
basah jernih |
licin jernih |
licin jernih mulur |
| Stiker |

|
 |
 |
 |
 |
 |

|
 |
 |
 |

|
 |

|

|
| Simbol |

|
 |
 |
 |
 |
 |

|
 |
 |
 |

|
 |

|

|
| Rasa
Sifat
Lendir |
licin |
licin |
kering |
lengket |
lengket |
lengket |
kering |
kering keruh |
kering keruh |
kering keruh |
kering |
lembab keruh |
kering |
kering |
| Stiker |

|

|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| Simbol |

|

|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| Rasa
Sifat
Lendir |
kering |
kering |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Menstruasi (Gambar 10) menyatakan akhir siklus biasanya 11-16 hari sesudah ovulasi,
dan sekaligus sebagai permulaan siklus yang berikutnya. Tidak ada lagi gumpalan
lendir pada leher rahim sehingga darah menstruasi dapat mengalir ke luar rahim.
Kedua indung telur kembali beristirahat.
| Gambar 10. Menstruasi biasanya terjadi 11-16 hari setelah ovulasi.
|
 |
Ovulasi Tertunda - Perpanjangan Fase Pra Ovulasi dan POLA DASAR TIDAK SUBUR
Ovulasi sering kali tertunda, misalnya pada waktu stres, selama menyusui (laktasi),
atau pada masa pra-menopause. Pengertian menganai Pola Dasar Tidak Subur (PDTS)
merupukan unsur penting Metode Ovulasi Billings. Pengenelan mengenai pola tidak
subur tidak berubahnya pada fase pra-ovulasi memberi kebebasan kepada suami-istri
untuk melakukan hubungan seksual tanpa menjadi hamil dalam fase pra-ovulasi,
panjang ataupun pendek.
Pola Dasar Tidak Subur adalah pola yang sama sekali tidak berubah dan diamati dalam
waktu paling sedikit dua minggu, contohnya:
-
Tidak ada lendir (vulva kering); atau
-
Munculnya lendir yang tetap sama pada vulva yang disertai kadar estrogen yang
tetap rendah; atau
-
Kombinasi dari butir 1) dan 2), bila munculnya lendir tetap tidak berubah dalam
pengamatan selama 2 minggu dan diselingi dengan hari-hari kering.
Pola Dasar Tidak Subur berdasarkan pengeluaran cairan berasal dari vagina
(contoh: 2 dan 3). Bila naiknya kadar estrogen cukup tinggi untuk menimbulkan
reaksi pada leher rahim, maka pola berubah dan menunjukkan kemungkinan kesuburan.
Naik turunnya kadar estrogen bisa menimbulkan reaksi endometrium (selaput dinding
rahim) dengan pendarahan breakthrough atau pendarahan withdrawal.
PERATURAN PRA-OVULASl (lihat di bawah), bila diterapkan pada Pola Dasar Tidak
Subur menjamin keamanan Metode Ovulasi Billlngs dan memastikan perempuan
mengenali kesuburannya kembali dalam kasus ovulasi tertunda yang dapat
disebabkan oleh berbagai hal.
Kegagalan Leher Rahim Dan Pola Dasar Tidak Subur (PDTS)
Leher rahim harus memproduksi lendir yang bermutu supaya sperma-sperma dapat
berfungsi secara tepat. Dalam beberapa situasi, misalnya menjelang menopause
dan sesudah pemakaian kontrasepsi, leher rahim gagal untuk merespon terhadap
rangsangan estrogen. Dengan secara konsekuen menggagalkan juga fungsi cairan
lendir untuk menerima sel-sel sperma. Perempuan ini tidak subur walaupun dia
berovulasi. Dia akan mengenal hal itu sebagai pola yang tidak berubah misalnya:
-
Pola Dasar Tidak Subur Kering,
-
PDTS berlendir tetap sama, atau
-
Kombinasi dari keduanya yaitu kering dan munculnya yang tidak berubah.
Peraturan pra-ovulasi digunakan sehingga kembalinya kesuburan dapat diketahui.
Peraturan Metode Ovulasi Billings
-
Untuk Mencapai Kehamilan:
Digunakan Peraturan Pra-Ovulasi. Cara ini membantu untuk mengenal perubahan pola
kesuburan lendir.Kemudian, hubungan seksual harus ditunda sampai lendir licin
tampak. Beberapa hari berikutnya adalah hari yang paling subur.
Oleh karena itu, hubungan seksual hendaknya dilakukan selama ada lendir licin
(vulva terasa licin).
-
Untuk Menunda/Menjarangkan Kehamilan:
-
Digunakan Peraturan Pra Ovulasi
-
Peraturan Puncak
Peraturan Pra Ovulasi
Peraturan 1: Hindarilah hubungan seksual pada hari-hari pendarahan deras selama
menstruasi.
Peraturan 2: Hubungan seksual boleh dilakukan pada setiap malam hari kedua
(selang-seling), bila hari ini sudah dikenal sebagai tidak subur.
Peraturan 3: Hindarilah hubungan seksual setiap hari ketika lendir atau pendarahan
menyelingi Pola Dasar Tidak Subur. Hubungan seksual baru boleh dilakukan lagi
bila 3 hari berturut-turut dikenali sebagai PDTS, maka hubungan seksual boleh
dilakukan pada malam ke-4. Selanjutnya gunakanlah peraturan 2.
Peraturan Puncak
Bila Puncak sudah diketahui setelah berubaan dari PDTS, maka memakai peraturan
Puncak. Mulai hari ke-4 sesudah Puncak sampai akhir siklus, boleh melakukan
hubungan seksual setiap hari pada setiap saat.
Petingnya Pencatatan Ha
Kalau petunjuk-petunjuk ini digunakan, maka pasangan-pasangan dalam usaha
menghindari kehamilan dapat mengharapkan 99 % keberhasilan.
Pencatatan harian penting karena mengingatkan seorang perempuan untuk memberi
perhatian pada rasa sdan sifat lendir setiap hari.
Pencatatan ini memberi informasi yang berharga kepada suami, sehingga dia bersama
istrinya dapat membicarakan kemungkinan-kemungkinan, serta bersama-sama mengambil
keputusan mengenai kapan mereka ingin melahirkan anak pertama atau anak berikutnya.
Kode Stiker dan Simbol-Simbol
The legends to the various coloured stamps and simbols used in
the charts, are given on the page Charts
- The Visual Record.
Blanko Catatan
Catatan dengan keterangan
Catatan saja
Bila hasil cetakan blanko catatan tidak memuaskan, cobalah mengubah ukuran huruf
browser anda. |